Urgensi Profesional Kesehatan Mental dalam Menangani Stres Kerja di Micro-Startup Akibat Limitasi Wewenang HR
Keywords:
Micro-startup, Human Resources, Stres Kerja, Kesehatan MentalAbstract
Banyak peneliti sejak 2022 mengakui kebutuhan percepatan pertumbuhan bisnis micro-startup dengan minimnya sumber daya perusahaan seringkali diiringi dengan meningkatnya tuntutan kerja melalui peran ganda dan tugas dadakan di luar kontrak kerja yang berujung beban kerja berlebih. Beban kerja berlebihan di perusahaan mana pun apalagi di micro-startup yang notabene bertekanan kerja tinggi berimplikasi pada tingginya stres kerja karyawan. Esai ilmiah ini bertujuan mengkritisi limitasi wewenang Departemen HR dalam menangani kesehatan mental pekerja micro-startup akibat konflik kepentingan. 46,4% kebijakan serupa bagi HR telah berlaku sejak 2021. Sintesis dari berbagai penelitian mutakhir lima tahun terakhir sejak 2021 menemukan bahwa budaya kerja bertekanan tinggi di micro-startup berkontribusi meningkatkan masalah kesehatan mental. Di sisi lain, HR cenderung memprioritaskan target bisnis dan efisiensi organisasi dibandingkan intervensi kesehatan mental. Kondisi tersebut diperparah oleh stigma, kekhawatiran kerahasiaan data pribadi, privasi psikologis, serta minimnya literasi kesehatan mental pada jajaran pimpinan perusahaan. Esai ilmiah ini merekomendasikan micro-startup untuk meperkejakan profesional kesehatan mental independen untuk menjaga objektivitas layanan psikologis. Gagasan ilmiah ini diharapkan menjadi kontribusi konseptual dalam literatur Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), khususnya terkait pengelolaan kesehatan mental kerja pada perusahaan rintisan skala mikro.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Proceedings Series on Social Sciences & Humanities

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.





