Kesehatan Mental di Era Digital: Eksistensi Diri dan Fenomena Validasi Sosial Antar Generasi
Keywords:
Kesehatan Mental, Eksistensi Diri, Validasi Sosial, Media Sosial, Antar GenerasiAbstract
Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah mengubah fundamental cara masyarakat berinteraksi, bertransformasi dari sekadar alat komunikasi menjadi arena pembentukan eksistensi diri dan pencarian validasi sosial. Fenomena ini melintasi berbagai generasi, dengan karakteristik penggunaan yang berbeda namun kebutuhan mendasar akan pengakuan yang sama. Artikel ini mengkaji hubungan antara kesehatan mental, eksistensi diri, dan validasi sosial antar generasi di era digital melalui tinjauan literatur. Analisis terhadap pola penggunaan media sosial dan dampaknya terhadap psikologis individu menunjukkan bahwa budaya validasi digital, seperti flexing dan FOMO, dapat memengaruhi kesehatan mental jika tidak diimbangi dengan literasi digital dan kontrol diri yang memadai. Oleh karena itu, kesadaran dalam menggunakan media sosial secara bijak sangat penting untuk memanfaatkan teknologi secara positif tanpa mengorbankan kesejahteraan mental.
References
Bauman, Z. (2000). Masyarakat cair. (A. Suseno, Penerj.). IRCiSSoD. (Buku asli diterbitkan 2000).
Castells, M. (2000). The Rise of the Network Society (2nd ed.). Blackwell Publishers.
Chen, S. C., & Lee, Y. H. (2013). The relationship between social media addiction and psychological well-being of Baby Boomers. Journal of Information and Communication Technology, 7(2), 127-140.
Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117–140.
Goffman, E. (1956). The Presentation of Self in Everyday Life. University of Edinburgh.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Proceedings Series on Social Sciences & Humanities

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.





